SilumanCapung

Semester 5: mulai dibayangi skripsi



Gila, tau-tau udah ada di pertengahan bulan Oktober aja. Perasaan baru kemaren gue bangunin orang-orang yang ngetwit, “Wake me up when September ends,” deh…

Tau-tau gue udah UTS padahal perasaan kemaren baru aja mulai semester 5 dan bikin asam urat dosen kumat gara-gara  nanya, “Ini mata kuliah apa, sih?”

Tau-tau gue udah menyendiri hampir 6 bulan. Iya, menyendiri adalah bahasa halus dari kata menjomlo.

Time flies so fast, yap?

Gue mau curhat dikit soal kuliah. Seperti yang udah kalian baca di atas, gue sekarang sudah mulai semester 5. Awalnya gue kira masih bisa nyantai-nyantai ngerjain tugas kayak semester lalu gitu, taunya… enggak bisa. Kampret.

#CurhatanBejat : Ingin Menjadi Penulis Karena Royalti

Sebenernya gue mau basa-basi dulu sebelum membuka sesi #CurhatanBejat ini, tapi karena isi email curhatannya udah penuh basa-basi, yaudahlah gak usah basa-basi, takut postingan ini jadinya kepanjangan dan selesai baca kalian tau-tau udah nimang 2 cucu. Langsung aja baca curhatannya:

Hai bang yoga, yoga kan ya? Mungkin ini gara gara si evala pundak lutut kaki itu, gatau kenapa gue juga seakan tertarik magnet buat konsultasi ke elo yog. Oke ini lebay.

Hambatan Saat Sensus Bermunculan

Biar gak bingung, baca cerita bagian pertama di sini dan bagian kedua di sini.

*****
Dalam hidup ini, terkadang kita harus lepas dari yang namanya comfort zone alias zona nyaman. Hidup gak akan terasa ada tantangannya! Itu yang gue rasain ketika harus berpindah lokasi penyensusan.

Jika di perumahan sebelumnya gue gak menemui permasalahan berarti. Di daerah yang baru ini, masalah mulai berdatangan. Seakan-akan gue ini om-om kaya dan masalah itu adalah keponakan yang mata duitan. Mereka berdatangan secara bertubi-tubi dan semena-mena.

Di daerah yang baru ini keadaannya menyeramkan. Rumah-rumahnya seperti bukan rumah p*ertamina, letaknya di pinggir jalan umum, banyak preman berkeliaran, anak SD yang lewat pun berjalan dengan ekspresi pucat ketakutan. Belakangan gue tau kalo anak itu habis cepirit di sekolah.

Kembali ke penyensusan.

Apakah gue bisa menyensus tanpa bantuan sekuriti seperti di perumahan sebelumnya? Iya, selama 3 hari di menyensus di perumahan sebelumnya, baru di hari terakhir gue bertemu sekuriti, itu pun dia hanya berpatroli di sekitaran komplek, bukan mengawal seperti yang dijanjikan di awal. Ketika gue minta dikawal, si om sekuriti bilang, “Wah, kita juga kekurangan anggota kalo harus mengawal satu per satu. Kalo ada masalah di lapangan aja misalnya si pemilik rumah gak mau didata, kalian hubungi sekuriti.” Si om sekuriti pun memberikan nomor handphonenya.

Gue iyain aja karena saat itu emang gue gak nemu masalah sama sekali.

Tapi, kalo liat perumahan yang sekarang, sepertinya ini beda kasus. Gue takut kalo gak dikawal sekuriti. Hati ini kembali ragu untuk menyensus.

“Udah, coba aja dulu. Buktinya di perumahan kemaren mereka sudah tau bakal didata,” Kata Novia.

“Okeh. Kita coba dulu,” gue mengiyakan.

Sensus pun Dimulai

Baca cerita sebelumnya di sini.

Tanggal 11 Agustus pun tiba. Pukul 9 pagi gue bersama para anggota sensus berkumpul untuk membawa persediaan selama bekerja; papan scanner, form pendataan, stiker untuk ditempel di depan rumah sebagai bukti rumah tersebut sudah di data dan granat untuk memusnahkan PTH. Oke, yang terakhir gak ada.

Jujur, gue deg-degan pas sampai di komplek perumahan yang menjadi jatah gue untuk disensus. Dengan langkah ragu gue bersama rekan gue, Novia, mendatangi rumah pertama. 

Gue inget tugas utama gue: Tinggal datang ke rumah orang, dikawal sekuriti, nyatat data diri pemilik rumah, selesai.

Tapi begitu lihat kenyataannya: Datang ke rumah orang berdua, gak ada sekuriti yang kawal, bingung harus mendata bagaimana, pura-pura gila.


Bagaimana hati ini tak ragu?

Tapi, kalo gue diam aja kerjaan ini gak bakal kelar. Gue mencoba meyakinkan diri dan berjalan ke salah satu rumah, membuka pagarnya dan mulai mengetuk pintunya, “Permisi, selamat pagi!” sapa gue.

Mengisi Liburan Dengan Kegiatan Aneh.

Ha-halo. Hehe… *muncul dengan tampang tanpa dosa*

Akhirnya tiba juga di bulan September. Bulan penuh update-an lagunya Green Day – Wake Me Up When September Ends di berbagai media sosial. Di bulan Agustus kemaren gue sama sekali gak ada update postingan di blog ini. Alasannya klasik: sibuk di dunia nyata.

Tapi, gue bukannya mengkambing hitamkan nama sibuk. Gue bener-bener sibuk. Jangankan buat ngetik, buat buka Microsoft word aja gue gak sanggup karena lelah beraktifitas seharian. Bukan, gue bukannya nyuci candi atau kerja yang berhubungan dengan dunia kuli. Gue ngelakuin hal yang bener-bener gak pernah gue bayangkan sebelumnya. 

Oke, cukup basa basi gak gunanya. Sebaiknya baca baik-baik karena ini akan sangat panjang. Sepanjang jalan kenangan dengan pacar yang udah pacaran 5 tahun tau-tau putus karena orang tuanya gak setuju.

Kisah ini bermula di bulan Juli, ketika gue sedang melakukan ibadah di siang hari yaitu tiduran di kamar. Iya, bulan Juli kemaren kan pas puasa dan tidur di bulan puasa adalah ibadah. Lagi asik-asik ibadah tiba-tiba terdengar nada chat LINE masuk ke hape gue. 

#CurhatanBejat: Gak Dianggap dan Diputusin Karena Skripsi

HAI!

Berawal dari postingan iseng gue soal jawab curhatan salah satu pembaca blog gue, malah ada yang curhat lagi tepat setelah postingan itu terbit. Gak nanggung-nanggung, ada tiga curhatan. Satu curhatan gue balas langsung via e-mail karena masalah yang dihadapi beda tipis sama masalah si Evala pundak lutut kaki, nah kedua curhatan sisanya bakal gue jawab lewat postingan ini. 

So, mari menuju ke pencurhat pertama. Namanya Nisan. Bukan, dia bukan batu yang ada di atas kuburan, dia seorang cewek baru lulus SMA, bukannya galau milih jurusan kuliah, dia malah galauin cowok. Ada-ada aja, kan?

Nisan, bukan properti kuburan, baru lulus SMA:
Hai ka? Gue abis baca blog lu yang curhatan si evala pundak lutut kaki. Sekarang gue mau ikutan curhat boleh? Makasih :)
Masalahnya si hampir sama ka evala pundak lutut kaki. Jadi gue punya temen ka namanya Sam, kita akrab dari awal masuk SMA sampe sekarang lulus. Kita satu ekskul satu organisasi dan satu kelas. Dia orangnya periang banget. Tapi selama 3 tahun itu gue baru kenal dia yang bener-bener kenal beberapa bulan lalu. Kita smsan, dia curhat ke gue, dan ternyata apa yang gue liat gak seperti kenyataannya. Dia punya 2 panggung, dia mampu berpura-pura ceria didepan orang, mampu menghadirkan tawa buat orang-orang, tapi nyatanya dia sendiri gak seceria dan setegar yang kita liat.
Sejak hari itu gue tau tentang dia. Gue jadi tertarik buat masuk dalam hidupnya, gue mau jadi orang yang selalu ada buat dengerin cerita dia buat kasih solusi. Tapi cinta datang gitu aja.
Gue jatuh cinta ka sama dia.