SilumanCapung

Hal-hal Yang Dapat Kamu Lakukan Saat Minggu Tenang

Di FTV, dunia perkuliahan selalu digambarkan penuh kebahagiaan. Datang ke kampus pake kaos oblong dan celana selutut, kerjaannya di kampus cuma baikin atap, ngaduk semen, pas lagi angkat kayu 10 batang tiba-tiba tabrakan sama cewek cantik, tatap-tatapan, jadian. Segampang itu dapat pacar?!

BAHAGIA BANGET KAN?!

By the way… FTV yang gue tonton itu judulnya “Pacarku Kuli Bangunan Kampusku.”

Sekarang gue mau nambahin sedikit imajinasi kebahagian kalian bagi para dedek-dedek SMA yang mau melanjutkan kuliah. Selain bebas dari yang namanya seragam dan aturan gak boleh gondrong, salah satu enaknya dunia perkuliahan adalah adanya minggu tenang sebelum ujian akhir semester (UAS). Buat kalian yang belum tau apa itu minggu tenang, jadi dalam satu minggu kita diliburkan kuliah biar tenang sebelum menghadapi ujian.

Enak kan? ENAK!

Tapi,  dibalik kenikmatan fana itu, dunia perkuliahan ada gak enaknya juga. Dosen-dosen yang sering gak masuk, dengan jahatnya merusak kebahagiaan itu dengan memakai minggu tenang untuk kuliah tambahan.

Ini menjawab pertanyaan gue selama ini: “Kenapa di SMA pas guru gak masuk gue seneng, tapi di kampus pas dosen gak masuk gue kesel?”

Jawabannya ternyata simpel: Kalo dosen gak masuk, minggu tenangmu gak akan tenang!

Nah, walaupun namanya minggu tenang, sebenarnya kalian gak boleh tenang-tenang aja sebelum ujian.

Banyak hal yang bisa kalian lakukan saat minggu tenang, misalnya aja:

Hal-Hal Ngeselin Saat Main Clash of Clans PART 2

"Postingan ini dibuat oleh newbie di clash of clans. Saat postingan ini diterbitkan, gue masih level 39 dan town hall level 6. Mungkin kalo level dan town hall gue udah tinggi, makin banyak hal ngeselin lainnya.”


Kalimat di atas adalah penutup dari postingan hal-hal ngeselin saat main game clash ofclans yang gue tulis di akhir bulan Juni lalu. Sekarang sudah bulan November dan gue pengin menyambung tulisan gue itu berhubung sekarang gue udah level 78 dan di Town Hall 8. Hehe.

Sebelumnya, gue mau cerita dikit. Gue udah leave dari clan alay Malaysia (The GaMerZ) saat level 50 karena ngerasa clannya gak berkembang, akhirnya gue join dengan clan dari Canada bernama Justin Bieber Lovers. Oke, bukan. The WuTangClan (Clan tag: #8YGLYJ9). Clannya lumayan kuat dan ada sekitar 5 clasher orang Indonesia yang join juga. Kalo mau liat stats gue cari yang namanya “Olympus”, ya.

Berikut hal ngeselin yang gue rasain ketika main Clash of Clans versi high level.

Semester 5: mulai dibayangi skripsi



Gila, tau-tau udah ada di pertengahan bulan Oktober aja. Perasaan baru kemaren gue bangunin orang-orang yang ngetwit, “Wake me up when September ends,” deh…

Tau-tau gue udah UTS padahal perasaan kemaren baru aja mulai semester 5 dan bikin asam urat dosen kumat gara-gara  nanya, “Ini mata kuliah apa, sih?”

Tau-tau gue udah menyendiri hampir 6 bulan. Iya, menyendiri adalah bahasa halus dari kata menjomlo.

Time flies so fast, yap?

Gue mau curhat dikit soal kuliah. Seperti yang udah kalian baca di atas, gue sekarang sudah mulai semester 5. Awalnya gue kira masih bisa nyantai-nyantai ngerjain tugas kayak semester lalu gitu, taunya… enggak bisa. Kampret.

#CurhatanBejat : Ingin Menjadi Penulis Karena Royalti

Sebenernya gue mau basa-basi dulu sebelum membuka sesi #CurhatanBejat ini, tapi karena isi email curhatannya udah penuh basa-basi, yaudahlah gak usah basa-basi, takut postingan ini jadinya kepanjangan dan selesai baca kalian tau-tau udah nimang 2 cucu. Langsung aja baca curhatannya:

Hai bang yoga, yoga kan ya? Mungkin ini gara gara si evala pundak lutut kaki itu, gatau kenapa gue juga seakan tertarik magnet buat konsultasi ke elo yog. Oke ini lebay.

Hambatan Saat Sensus Bermunculan

Biar gak bingung, baca cerita bagian pertama di sini dan bagian kedua di sini.

*****
Dalam hidup ini, terkadang kita harus lepas dari yang namanya comfort zone alias zona nyaman. Hidup gak akan terasa ada tantangannya! Itu yang gue rasain ketika harus berpindah lokasi penyensusan.

Jika di perumahan sebelumnya gue gak menemui permasalahan berarti. Di daerah yang baru ini, masalah mulai berdatangan. Seakan-akan gue ini om-om kaya dan masalah itu adalah keponakan yang mata duitan. Mereka berdatangan secara bertubi-tubi dan semena-mena.

Di daerah yang baru ini keadaannya menyeramkan. Rumah-rumahnya seperti bukan rumah p*ertamina, letaknya di pinggir jalan umum, banyak preman berkeliaran, anak SD yang lewat pun berjalan dengan ekspresi pucat ketakutan. Belakangan gue tau kalo anak itu habis cepirit di sekolah.

Kembali ke penyensusan.

Apakah gue bisa menyensus tanpa bantuan sekuriti seperti di perumahan sebelumnya? Iya, selama 3 hari di menyensus di perumahan sebelumnya, baru di hari terakhir gue bertemu sekuriti, itu pun dia hanya berpatroli di sekitaran komplek, bukan mengawal seperti yang dijanjikan di awal. Ketika gue minta dikawal, si om sekuriti bilang, “Wah, kita juga kekurangan anggota kalo harus mengawal satu per satu. Kalo ada masalah di lapangan aja misalnya si pemilik rumah gak mau didata, kalian hubungi sekuriti.” Si om sekuriti pun memberikan nomor handphonenya.

Gue iyain aja karena saat itu emang gue gak nemu masalah sama sekali.

Tapi, kalo liat perumahan yang sekarang, sepertinya ini beda kasus. Gue takut kalo gak dikawal sekuriti. Hati ini kembali ragu untuk menyensus.

“Udah, coba aja dulu. Buktinya di perumahan kemaren mereka sudah tau bakal didata,” Kata Novia.

“Okeh. Kita coba dulu,” gue mengiyakan.

Sensus pun Dimulai

Baca cerita sebelumnya di sini.

Tanggal 11 Agustus pun tiba. Pukul 9 pagi gue bersama para anggota sensus berkumpul untuk membawa persediaan selama bekerja; papan scanner, form pendataan, stiker untuk ditempel di depan rumah sebagai bukti rumah tersebut sudah di data dan granat untuk memusnahkan PTH. Oke, yang terakhir gak ada.

Jujur, gue deg-degan pas sampai di komplek perumahan yang menjadi jatah gue untuk disensus. Dengan langkah ragu gue bersama rekan gue, Novia, mendatangi rumah pertama. 

Gue inget tugas utama gue: Tinggal datang ke rumah orang, dikawal sekuriti, nyatat data diri pemilik rumah, selesai.

Tapi begitu lihat kenyataannya: Datang ke rumah orang berdua, gak ada sekuriti yang kawal, bingung harus mendata bagaimana, pura-pura gila.


Bagaimana hati ini tak ragu?

Tapi, kalo gue diam aja kerjaan ini gak bakal kelar. Gue mencoba meyakinkan diri dan berjalan ke salah satu rumah, membuka pagarnya dan mulai mengetuk pintunya, “Permisi, selamat pagi!” sapa gue.