SilumanCapung

kenyamanan adalah koentji

Sekitar 2 tahun terakhir sebenernya gue pengin melakukan beberapa perubahan untuk blog ini. Iya, blog ini terhitung tampilannya gini-gini aja, padahal blog ini sudah aktif mulai tahun 2010. Yang paling parah jelas header blog. Header-nya sudah gak ganti 3 tahun lebih sodara-sodaraaaa!!! Udah mirip sama Bang Toyib yang gak pulang-pulang.

Berhubung gue udah gak se-excited dulu pas awal-awal ngeblog, di mana gue belajar kode-kode buat modusin blogger cewek HTML buat design blog, sekarang gue pasrah aja tampilan blog ini begini saja. Yang penting kontennya. Tul tidak? 

*anjrit, gaya banget padahal update aja sebulan sekali*

Kekuatan super yang muncul saat UAS

Menjelang tahun 2015, ketakutan gue menghadapi tahun itu adalah karena gue akan magang. Menjelang tahun 2016 kemaren, gue lagi-lagi mengalami ketakutan. Tahun ini gue udah mulai skripsian. Iya, Di awal tahun 2016 ini gue baru saja menuntaskan UAS semester 7. Mau bahagia karena liburan pun dilema karena udah kepikiran,


“JUDUL SKRIPSI GUE APAAN, YA?”

“GUE BISA LULUS TAHUN INI GAK, YA?”

“MANTAN UDAH NGAPAIN AJA SAMA PACAR BARUNYA, YA?”

Jadi mahasiswa semester akhir gini amat ternyata.

Nah, selama kuliah 7 semester itu tentunya gue udah 7 kali menghadapi yang namanya UAS. Bagi adik-adik yang berpikiran kalo UAS anak SMA dan Kuliahan itu sama, kalian salah! UAS itu jadi penentu nilai (IP) kalian untuk bisa ngambil berapa banyak mata kuliah di semester depan. Semakin tinggi, semakin banyak bisa ngambil mata kuliah semester depan, semakin cepet lulus. Gitu. 

Makanya UAS itu menjadi momen special, di mana para mahasiswa tiba-tiba memiliki kekuatan ajaib agar bisa mendapat IP bagus. Misalnya aja kekuatan seperti ini…

1.Kekuatan untuk datang super cepet

Kelakuan temen-temen sekelas gue pas perkuliahan biasa adalah sering telat. Jadwal kuliah mulai pukul 8.30 pagi, mereka datang pukul 8.45. Pernah juga ada yang datang pukul 9.30. Untungnya dia diperbolehkan masuk ke kelas oleh sang dosen setelah menggunakan alasan klasik “ban bocor”, padahal gue tau kalo temen gue itu kesiangan, atau di rumahnya gak ada teknologi bernama jam.

Nah, saat UAS, kelakuan mereka berubah 180 derajat. UAS dimulai pukul 8.30, gue pun berangkat dari rumah pukul 7.45 karena perjalanan dari rumah ke kampus itu 30 menit. Masih bisalah pilih tempat duduk di belakang, pikir gue.
Pukul 8.15 gue sampai kampus dan segera menuju ruang ujian. Begitu buka pintu… KELASNYA SUDAH PENUH! GUE DAPET KURSI PALING DEPAN! *nangis*

Besoknya, gue berangkat lebih cepet. Gue berangkat pukul 7.30 dari rumah. Sesuai perkiraan, gue sampai kampus pukul 8.00. Begitu sampe kelas… KELASNYA SUDAH PENUH LAGI! 

Gue penasaran, gue Tanya sama temen-temen gue, “Kalian jam berapa sih sampe kampus?”

“Pukul 7.30.”
 “….”

Begitu dahsyatnya UAS, yang tukang telat saat perkuliahan biasa aja bisa datang cepet.

2.Kekuatan untuk bisa menulis di mana saja

Selain agar bisa ngambil barisan kursi paling belakang, niat gue datang UAS 15 menit sebelum mulai adalah agar bisa melakukan persiapan untuk mencontek. Iya, gue gak munafik kalo gue masih nyontek karena kadang materi yang di-UAS-kan itu banyaknya minta ampun. Belum lagi rata-rata soal UAS itu berformat sebutkan dan jelaskan serta berikan contoh! Jadi, kadang gue suka nyatat poin-poin materi yang gue rasa bakal keluar di soal nanti.

Di mana kah gue nyatat?

Karena gue gak ahli dalam mengeluarkan catatan atau fotokopian yang sudah dimikro, gue nyatat di… telapak tangan dan meja. Iya, meja anak kuliahan yang begini:

Nemu di gugel dengan keyword: kursi anak kuliah. Nice info, kan?
Biasanya gue bakal pilih yang warna mejanya hitam, jadi bisa gue tulisin pake pensil. Kalo udah selesai, tinggal hapus untuk menghilangkan jejak. Ehe.

3.Kekuatan untuk bisa membaca tulisan kecil

Kelanjutan dari kekuatan bisa menulis di mana saja adalah para mahasiswa mendapatkan kekuatan bisa membaca tulisan kecil. Gak mungkin dong kita nulis di meja, tapi tulisannya gede-gede kayak paha badak? Pasti kita akan menulis sekecil mungkin! Dan karena faktor itulah, kita mendapatkan kekuatan membaca tulisan kecil untuk mengisi jawaban dari soal UAS.

Saat mendapatkan contekan dari temen berupa gumpalan kertas juga isinya pasti tulisan kecil, gak mungkin 1 folio. Jadi, kekuatan ini bener-bener bermanfaat demi meraih IP tinggi.

4.Kekuatan untuk berbicara dan mendengar tanpa suara

Apabila semua contekan yang sudah kita buat gak ada yang keluar di soal, kita bener-bener gak tau jawabannya, pilihan 50:50 sudah dipakai, phone a friend gak bisa digunakan karena saat UAS dilarang membawa hape, maka satu-satunya cara agar lembar jawaban terisi adalah dengan bertanya ke temen.

Jika bertanya bisa menggunakan kode lewat jari, memberi jawaban akan lebih ribet karena kita harus mendiktekan jawaban ke temen tanpa suara.

TANPA SUARA! *sengaja diulang biar keren*

Tiba-tiba aja kita bisa ngomong tanpa mengeluarkan suara, hanya melalui gerakan bibir, kerennya temen kita bisa ngerti kita ngomong apaan dan segera mencatat jawabannya. Keren.

5.Kekuatan merasakan tatapan tanpa melihat

30 menit awal di UAS, biasanya para mahasiswa akan berusaha mengerjakan soalnya sendiri. Tanpa tolah-toleh, pandangannya terfokus pada lembar soal dan kertas folio. 30 menit awal sudah terlewati, kita mendadak punya kemampuan merasakan tatapan. Kita mendadak ngerasa orang di belakang atau sebelah kita membutuhkan bantuan, dan kita segera menoleh. Setelah menoleh, orang yang kita tatap tadi langsung menggunakan kode di tangannya untuk bertanya nomor soal yang dia tidak tau jawabannya. Iya, dengan menatap orang lama-lama, dia akan tau kalo dia ditatap. Kekuatan yang mengerikan!


6.Kekuatan gak mau rugi
“Ssssttt!”

“Uhuk!”

Cara-cara di atas adalah cara klasik jika kekuatan tatapan mendadak tidak berfungsi. Biasanya temen yang dikodein begini adalah temen yang pinter tapi mendadak budek pas ujian. Dikodein gak noleh, dipanggil gak noleh, dilempar bom nuklir dia mati. 

Gue menyimpulkan, mahasiswa tipe ini berusaha mendapatkan IP bagus dengan kekuatan pura-pura budek. Dia gak mau temen-temen lainnya mendapat IP bagus seperti dia. Mahasiswa begini, halal dikucilkan dari pergaulan.

Kayaknya itu aja kekuatan-kekuatan yang muncul (yang gue sadari) saat berlangsungnya UAS. Mungkin ada kekuatan lainnya yang gak gue sadari, tapi ya namanya juga mahasiswa, selalu menghalalkan segala cara agar dapet IP tinggi, bisa ngambil banyak mata kuliah semester depan, semakin cepet juga galauin skripsi… Eh.

Magang dan Quentin Jacobsen

Sudah di penghujung tahun 2015. Seperti kebiasaan para blogger, momen ini dijadikan bahan postingan, entah untuk membahas apa saja pencapaian di tahun 2015 atau resolusi untuk tahun 2016. Iya, momen ini bener-bener membantu blogger murtad yang sering kehabisan bahan buat diposting, kayak gue.

Tahun 2015 merupakan tahun yang epic bagi gue. Awalnya gue takut banget menghadapi tahun 2015 karena di tahun ini gue semester 7, gue bakal magang, karena gue kuliah jurusan pendidikan maka gue magangnya jadi ikan. Oke, bukan. Jadi guru.

Bisa dibilang gue kuliah tanpa bener-bener minat kuliah. Magang tentunya sudah jadi ketakutan bagi gue. Jangankan ngajar, kuliahnya aja gak minat. Gue takut menyesatkan calon penerus bangsa ini. Untungnya, magang gue selama 3 bulan dari bulan Agustus sampai Oktober berlalu tanpa hambatan. Emang bener, cara paling mudah menaklukan ketakutan kita adalah dengan menghadapinya. #SokBijak #SokPesanMoral #YogaGanteng
yay!
Selain magang, di tahun 2015 ini juga gue bener-bener keluar dari zona nyaman gue. Setelah lama berdiam diri di rumah aja, gue akhirnya ke luar kota. Terakhir kali gue ke luar kota itu tahun 2013, gue ke Surabaya dan Malang. Kenapa gue jarang ke luar kota? Sebenernya simpel. Gue buta arah. Gue bukan pengingat dan penghafal jalan yang baik. Gue masuk ke gramedia aja tersesat nyari pintu keluar.

Alasan satu-satunya bagi gue si buta arah ini keluar kota adalah karena gue saat itu LDR-an Balikpapan-Samarinda. Iya, gue di Balikpapan, pacar gue di Samarinda.

Dua tahun sebelumnya, gue pernah juga LDR-an Balikpapan-Samarinda, tapi guenya gak pernah ke Samarinda karena si doi emang seminggu sekali pulang. Gak pengin ngulang kesalahan di hubungan sebelumnya, gue coba keluar dari zona nyaman gue: gue samperin dia ke Samarinda.

Mungkin, emang dia bukan belum jodoh gue. Hubungan kita harus berhenti setelah 5 bulan. 

Lima bulan berlalu, kadang gue suka keinget sama mantan gue itu. Bayangan masa lalu dari pertama kita kenalan, kita ketemuan, chating tiap hari, jadian, ngambek-ngambeknya, ditinggal ketiduran, ke fun city mainan kayak ababil lepas, ke pasar malam naik kora-kora KW yang bikin gue mau muntah ectoplasma, bangunin dia tidur biar gak telat kuliah, ke Samarinda cuma buat bilang kalo gue kangen pengin ketemu. Gue gak pernah seserius itu pacaran, apa lagi statusnya LDR-an.

Awalnya, beberapa bulan setelah kami putus, gue sempet nyesel mengiyakan saat dia minta putus. Belakangan ini gue sadar, bahwa gak semua yang diperjuangin bakal kita dapatin. Mungkin ada hal-hal lain di luar kesadaran kita yang bisa kita dapat dari perjuangan kita tadi. 

Gue jadi ingat film Paper Towns, di mana si Quentin Jacobsen berusaha nemuin si Margo Roth Spiegelman, cewek yang menjadi cinta pertamanya sejak kecil yang dianggapnya suatu ‘keajaiban’. Quentin mencari Margo yang menghilang lewat petunjuk-petunjuk yang ditinggalkan oleh Margo. Bersama ke-4 temennya, Quentin melalukan perjalanan dari Orlando ke New York untuk menuju paper towns (kota kertas atau fiktif) bernama Agloe. Sampai di Agloe, Quentin bertemu Margo dan nyatain perasaannya, ternyata si Margo ninggalin petunjuk bukan untuk ditemukan atau disusulin, cuma pengin ngasih tau kalo dia baik-baik aja. Nyeseknya, Margo cuma nganggap Quentin sebagai teman. Awalnya Quentin kecewa, perjalanan jauhnya terasa sia-sia. Tapi dia sadar, bahwa karena Margo-lah dia bisa nemuin “keajaiban” bernama pengalaman, jati diri, juga persahabatan bersama 4 orang temennya yang nemenin dia buat nyari Agloe.

Sama seperti Quentin, berkat ‘dia’ gue bisa keluar dari zona nyaman gue. Perjalanan gue ke luar kota naik motor untuk pertama kali. Iya, gue jadi tau gimana rasanya encok naik motor bolak-balik Balikpapan-Samarinda.

Gue juga tau rasanya masuk angin parah karena maksa pulang hujan-hujanan dari Samarinda karena gue gak ijin sebelumnya ke orang tua gue mau ke luar kota. (Ini jangan ditiru, karena ijin orang tua adalah yang paling utama). 

Pertama kali gue bolos kuliah cuma untuk nonton konsernya dia karena cuma pengin liat dia bahagia gue datang ke konsernya. Tau bahwa kesibukannya main biola sama sekali gak mengganggu hubungan kita, bahkan itu yang bikin gue bangga sama dia.

Mungkin bagi orang lain, ini tampak bodoh, tapi bagi gue… ini spesial.

Perjalanan gue selalu ditemani sohib gue, Dana, dan kita berdua selalu sepakat, “Bukan masalah bertemunya yang bikin berkesan, tapi… perjalanannya itu loh.”

Semua perjalanan, pengalaman dan perjuangan gue mungkin adalah ‘keajaiban’ yang gue dapat dari hubungan itu. Gue sendiri gak tau kabarnya dia bagaimana sekarang. Mungkin sekarang ‘Margo’ sedang bahagia dengan dunianya yang baru, di ‘paper towns’ tanpa gue.

Iya, gue.

Si Quentin Jacobsen.

Si Cemen vs Bendol KW

Gue anak motor.

Bukan, maksud gue anak motor itu bukan anak-anak yang hobi kebut-kebutan dan utak-atik motor, misalnya aja kayak ganti knalpot pake knalpot racing, ganti ban pake ban sepeda roda tiga, ganti lampu motor pake senter. Maksud gue anak motor adalah ke mana-mana gue selalu naik sepeda motor, untuk menunjang aktifitas sehari-hari gue.

Pertama kali gue bisa mengendarai sepeda motor adalah saat kelas 6 SD. Tapi masih sebatas keliling komplek dan harus membonceng kakak gue biar aman. Untuk ke jalan raya, gue baru melakukannya saat kelas 2 SMA, setelah gue punya SIM C.

magang gue selesai!

Biarkan gue menarik nafas panjang dulu sebelum memulai tulisan ini.
HHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH….
Okeh. 

Sudah. 

Mari kita mulai.

Banyak cerita yang sebenernya pengin gue tulis tentang kejadian beberapa bulan terakhir. Pertama, magang gue, Alhamdulillah sudah selesai. Kedua, gue di akhir bulan Oktober kemaren ngalamin kecelakaan lalu lintas. Ketiga, kucing gue sakit. 

Kali ini gue mau ceritain soal yang pertama aja dulu.

(Sok-sokan) Camping Part 2

Baca cerita sebelumnya di sini
 
Kami semua mulai membaca doa-doa dan melanjutkan perjalanan dengan lebih tenang. Gak ada becandaan dan celetukan lagi sampai kami tiba di spot yang bakal dijadikan tempat kami bermalam.

“Oke, di sini tempatnya.” Kata Dani. “Ini kita di pinggir tebing, kalo mau ke pantai tinggal turunin tebing ini.”

Angin laut berhembus kencang, membuat jaket tebal yang gue pakai seperti tidak berfungsi. “Ayo bikin api unggun, lalu bangun tenda.” Gue coba ngasih usul.

Kenapa musti bikin api unggun? Selain untuk penerangan, kami juga gak bawa lampu charge atau lampu portable lainnya. Senter aja gak bawa, apalagi lampu. Awalnya kami mau bawa lampu gitu, tapi disindir oleh Mas Ge, “Camping apaan bawa lampu.” 

Kampret memang.


“Iya cepet bikin api unggun. Baru bangun tendanya.” Bamz setuju dengan ide gue.

“Oh iya, mana tendanya? Air galonnya juga mana?” Ega melihat ada sesuatu yang janggal.

“Tenda sama air galonnya ditinggal di motor. Bilangnya Mas Ge ini survey tempat dulu.”  Jawab Angga polos.

DANI KAN SUDAH SURVEY TEMPAT INI DULUAN PAS KEMAREN-KEMAREN. JADI GAK ADA ISTILAH SURVEY LAGI, WOI!!!

Kami semua menatap Mas Ge dengan tatapan membunuh.

“Yaudah, bikin api unggun aja dulu. Istirahat bentar, baru ntar 2 orang ambil tenda dan gallon ke atas. Sisanya cari kayu buat api unggun.” Mas Ge memberi ide. Sambil berusaha menyelamatkan diri.

Yang jadi masalah adalah: siapakah orang berhati malaikat yang mau naik ke atas, lalu turun lagi membawa gallon dan tenda?

Setelah perdebatan panjang, akhirnya Ega dan Aris yang diutus untuk naik lagi ke atas. Gue, Dani dan Angga berusaha bikin api unggun. Bamz dan Mas Ge nyari kayu tambahan. Karin? Dia diem aja. Useless.

Agak susah bikin api unggun karena angin laut yang berhembus kencang. Daun yang kami bakar sebagai pancingan untuk membakar ranting selalu padam duluan sebelum dia membakar ranting-ranting pohon. Hampir 15 menit lebih kami tidak berhasil membuat api unggun.

“Minggir-minggir. Biar kukasitau cara membuat api unggun yang benar.” Mas Ge jongkok di sebelah kami. “Polisi itu juga diajarin bertahan hidup di alam liar. Self defense!”

Mas Ge mengatur ranting-ranting pohon sedemikan rupa, membakar daun, menaruhnya di bawah tumpukan ranting dan… voila! Api unggunnya nyala! Kami semua terkagum dan segera mengarahkan tangan kami ke api unggun. Hangat!

Beberapa menit kemudian Aris dan Ega pun datang membawa tenda dan air gallon.

“Ayo kita masak dulu, udah lapar nih!” Mas Ge menepuk-nepuk perutnya. “Angga, bawa panci, kan?”

“Bawa, mas!” balas Angga sambil pergi menuju tasnya. “Tunggu sebentar, ya!”

Beberapa menit kemudian Angga kembali sambil menunjukkan pancinya. Benda yang dibawa Angga tampak berkilau, tanda masih baru. Kami jadi gak tega mau masak pake panci itu.

“Itu panci baru, Ngga?” Tanya Mas Ge.

“Enggak, Mas. Ini bawa dari rumah.”

“Gak dimarahin ibumu bawa yang bagus gitu?”

“Tadi aku ijin ke Ibu, “Bu, Aku mau camping. Aku bawa panci, ya.” Malah disuruh bawa panci yang paling bagus. Yaudah kubawa aja.”

“….”

Mungkin ibunya Angga gak tau definisi camping adalah kita bakal masak secara barbar dan membuat panci menjadi gosong.

Air pun dituang ke dalam panci yang disusul gerakan menaruh panci di atas api. Ega mengeluarkan 4 bungkus mie instan dan meremukkannya. Menunggu air mendidih dengan api yang apa adanya begini ternyata cukup menyita waktu. Perut sudah mulai berontak. Gue, Dani, Angga, Ega dan Bamz bengong di depan api unggun menatap panci yang mulai gosong.

“Ayo makan dulu!” Mas Ge tiba-tiba muncul dari belakang sambil membawa… nasi kotak.



“Ini namanya self defense! Bertahan hidup!” Mas Ge ngeles.

Demi kelangsungan hidup, nasi kotak yang dibawa Mas Ge kita makan rame-rame. Dalam hitungan detik, nasi kotak tadi lenyap seketika.

Kembali ke api unggun. Air yang ditunggu-tunggu akhirnya mendidih juga. Ega segera memasukkan mie instan yang udah diremukin ke dalam panci dan mulai memasak. Iya, sengaja pake kata ‘memasak’ biar keliatan keren aja, padahal kan cuma masukin mie dan bumbu lalu diaduk-aduk doang.

Mie pun matang. Muka-muka kelaparan mulai mengelilingi panci berisi mie rebus tadi. Rupanya nasi kotak tadi gak cukup kuat untuk sekedar mengganjal perut. Ada yang menghirup aroma mienya, ada yang ngiler dan ada yang baru sadar kalo kita… gak bawa piring dan sendok.

INI MAKANNYA GIMANA?!!!

LANGSUNG PAKE TANGAN?!! MELEPUH KAMPRETTT!!!!

Awalnya gantian gitu, makan langsung dari pancinya memakai sendok bekas dari nasi kotak yang dibawa Mas Ge. Tapi kalo menggunakan cara ini, bisa dipastikan akan menimbulkan konflik rebutan sendok. Angga pun mengeluarkan ide jenius: dia mengambil ranting pohong, dipatahkan menjadi dua bagian dan voila! Jadi sumpit! Gue segera ikuti cara Angga dan mulai makan dengan susah payah.

Mas Aris gak kalah jenius, dia tau makan secara bersamaan di satu panci gak akan membuat kenyang, dia membagi botol air mineral untuk dijadikan… mangkok! Jenius!

Selesai makan dengan susah payah dan gak kenyang, Karin dan Dani teriak, “Ada p*op mie nih 4 biji.”

Gue menoleh dengan cepat ke sumber suara, menyiapkan suara terbaik dan bilang, “MINTA SATU!!!!”

“AKU JUGA!!!” Bamz ikutan.

Gue segera merebus air lagi untuk masak po*p mie. Self defense!

Beberapa menit kemudian air pun matang, gue tuang ke api unggunnya. Eh enggak, gue tuang ke gelas po*p mie-nya. Baru aja mau nuang, gerakan gue terhenti oleh perkataan Karin, “Airnya kotor kemasukan abu api unggun gitu, Yog.”

“Kalo mikir bersih atau kotor ya mati kelaparan, ntar. Udah, gak apa-apa.” Air pun gue tuang. Selanjutnya kami makan dengan khidmat dan lumayan kenyang. *tepuk-tepuk perut*

Malam itu kami habiskan untuk ngobrol-ngobrol, sambil nikmati bintang di langit, nyeruput kopi hangat, dibelai dinginnya angin laut, dipeluk hangatnya api unggun tanpa sibuk sendiri dengan handphone masing-masing karena gak ada sinyal di sini. Bener-bener sempurna.
 
terima kasih sudah menghangatkan kami semalaman!
Malam itu juga kami terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok anak muda, gue, Karin, Bamz dan Dani. Kelompok bau tanah ada Mas Ge, Aris, Ega dan Angga. Kelompok anak muda tidur duluan, kelompok bau tanah jagain kami karena mereka asik ngobrol. Gue terbangun pukul 2 malam, Karin, Dani dan Bamz juga ikut kebangun. Keadaan sekitar kami sepi. Api unggun yang ada di dekat kami juga hampir mati, kelompok bau tanah gak keliatan sama sekali. Gue berjalan ke pinggir tebing dan mendapati mereka lagi asik ngobrol di pinggir pantai, dengan api unggun baru.

Kami berempat yang udah terlanjur terbangun akhirnya membuka sesi curhat. Dani nyeritain soal keluarganya dan kisah percintaannya yang selalu berakhir setelah nge-date alias “kita pernah dekat zoned”. Karin nyeritain pacar barunya yang sayangnya harus terpisah oleh jarak. Gue sendiri cukup jadi pendengar yang baik bagi mereka. Yang paling kampret si Bamz, dia cerita habis nolak cewek. Ngehe memang.

Sekitar pukul setengah 4 gue tidur lagi. Gue musti nyimpan tenaga buat besok pulang ngelewatin padang pasir lagi.

Gue terbangun, keadaan sekitar gue udah terang. Gue cek hape yang ada di sebelah gue dan ternyata udah pukul 5.45. Gue segera bangunin yang lain untuk liat matahari terbit dan… ternyata gak ada. Kabut tebal membuat matahari yang gue tunggu-tunggu gak muncul. Gue pun turun ke bawah tebing untuk ke pantai dan… pipis.
 
ceritanya nunggu sunrise.
di foto dari bawah (pantai), orang berdiri itu tempat kita camping
Selesai pipis yang gak perlu gue ceritain bagaimana prosesnya, gue dan Angga membuat api unggun lagi, untuk bikin sarapan. Kali ini kami udah gak usah pusing-pusing makan pake apa. Ada gelas po*p mie semalem + garpunya!


Pukul 7, semua orang sudah bangun dan mulai sarapan secara beringas. Selesai sarapan Mas Ge, Karin, Aris, Bamz dan Dani turun ke bawah, mereka mau mainan di pantai. Gue sendiri gak ikut ke pantai karena takut kecapean dan gak bisa bawa motor nantinya. Gue, Angga dan Ega tinggal di atas. Cukup lama mereka berlima mainan di pantai, dari atas tebing gue ngeliat mereka jalan kaki jauuuuuuh banget. Ega mutusin untuk tidur lagi, sisa gue berdua ngobrol sama Angga.

“Yog, Aku mau jujur nih.” Angga membuka obrolan.

“Ju-jujur?” gue menatap Angga dengan pandangan hina. Takut kalo angga nyatain perasaannya ke gue.

“Iya, sebenernya aku…”

“Wait!” gue ngacungin telunjuk ke muka angga. “Ini bukan nyatain perasaan, kan?!”

“Anjirrrr bukan!”

Gue menghela nafas. Lega rasanya.

“Gini, aku takut aja kalo tiba-tiba ada orang datang terus teriak, “Woy! Ngapain kalian di sini!!!” sambil bawa tombak atau panah gitu. Kalo kejadian gitu gimana nasib kita, ya?”

“….” Gue bingung harus komentar apa.

“Pernah nonton film Wrong turn, gak? Itu yang kanibal-kanibal di hutan gitu.”

“PLIS YA. INI BUKAN SAAT YANG TEPAT NGOMONGIN FILM ITU!” Gue protes.

Gue pun menjauh dari Angga, meninggalkan dia sendirian yang asik menghisap rokoknya. Gue ke arah pohon dekat jalan turun ke pantai. Gue jadi agak parno apa yang ditakutin Angga beneran terjadi.

“AAAAAAAAAKKKKK~”

Gue. Denger. Suara. Jeritan. Cewek.

Bulu kuduk gue berdiri.

Gue menoleh cepat ke Angga dan Ega. Angga ngeliat ke arah gue, mukanya tampak bingung. Ega kebangun dari tidurnya. “Denger, gak?” Tanya gue. Mereka berdua mengangguk.

Dari posisi gue berdiri, gue dapat ngeliat mereka berlima yang main di pantai itu posisinya jauh banget. Kalo pun itu suara Karin, gak mungkin senyaring yang gue denger. (INI GUE NGETIKNYA MERINDING, KAMPRET!!!)
 
pas denger suara jeritan cewek, mereka ber-5 lagi di lingkarang merah. jauh banget!
“Yog! Tadi itu suara apa?!” Angga mulai panik dan ngambil kayu. “Self defense!”

“Entah lah. Ayo beres-beres aja dulu, pas mereka naik ke atas, biar langsung pulang.” Jawab gue.

Angga mulai membereskan semua bawaan kita. Api unggun disiram biar gak terjadi kebakaran hutan. Gue melambai-lambaikan tangan ke arah pantai, berharap salah seorang dari mereka melihat gue dan segera kembali. Usaha gue berhasil, mereka tampak berjalan kembali ke arah kami.

Barang bawaan kami sudah beres disusul dengan kedatangan mereka. “Kenapa sih, Yog?” Mas Ge tampak kesel belum puas main di pantai udah gue panggil.

“Tadi kalian ada teriak?” Tanya Angga.

“Gak ada, kita semua foto-foto aja di sana.”

Gue menatap Angga dan mulai memegang belakang leher kami masing-masing.

“Ayo siap-siap pulang sudah.” Ega buka suara.

“Kalian kenapa sih?!”

Kami pun ceritain kejadian yang kami alami dan mereka segera siap-siap pulang.
teroris kangen kasur :')
Cukup 2 kejadian horror aja yang kami alami untuk camping saat ini. Pukul 9 pagi kami meninggalkan lokasi, dengan segala keseruan, kehororan, kebersamaan, gue berhasil buang stress yang muncul di kepala gue. 

Yeah, we had so much fun.