SilumanCapung

Tentang Mengajar

Tanggal 10 Agustus, gue dan kelima temen gue udah mulai praktik mengajar di SMAN 7 Balikpapan.

Awalnya gue kira bakalan langsung ngajar, ternyata enggak. Fakultas gue membuat beberapa tahapan sebelum kami, para mahasiswa, resmi mengajar. Jadi, seminggu awal di sekolah, kami hanya melakukan observasi alias pengamatan. Misalnya saja mengamati keadaan sekolah, mencatat jumlah guru, jumlah kelas, jumlah murid di tiap kelas, jumlah cabe-cabean. Pokoknya semua dicatat.

Di minggu kedua, kami mulai menyusun perangkat pembelajaran berupa silabus dan RPP dengan bimbingan guru pamong (pendamping), serta melihat dan mengamati guru pamong kami mengajar di kelas.

Nah, mulai awal bulan September, baru deh gue mulai ngajar sambil melakukan penelitian sampai akhir bulan Oktober.

Teknisnya sih gitu. Tapi, kenyataan berkata lain…

Petualang Baru di Semester 7

Bulan Agustus ini jadi penanda bahwa gue telah memasuki perkuliahan semester 7. Di semester ini gue udah mulai magang, atau di dalam fakultas gue disebutnya PLP. Bukan, PLP itu bukan singkatan dari Pala Lu Peyang. PLP itu Praktik Latihan Profesi. Karena gue kuliah jurusan Pendidikan Ekonomi, maka gue bakal magang di sebuah sekolah dengan cara… jadi tukang sapu guru.

Perasaan gue campur aduk. Seneng, bingung, takut, gugup nyampur jadi satu. Seneng karena bentar lagi gue bakal lulus, bingung ntar pas gue praktek harus ngomong apa di depan kelas, dan takut… ntar dedek-dedek di kelas jatuh cinta sama gue. Ehe.

Nah, sebelum mulai magang pun gue udah disiksa habis-habisan dengan program fakultas yang bikin sebuah pelatihan dan berbagai tes agar kita siap saat diterjunkan di sekolah-sekolah nantinya.

Tahapannya dimulai ketika gue semester 6 akhir. Seminggu sebelum UAS. Jadi, yang seharusnya gue dengan asiknya menikmati minggu tenang dengan leyeh-leyeh santai, harus bolak-balik datang buat pelatihan. Ternyata emang bener, minggu tenang itu cuma mitos.


Sewaktu diberi tahu tahapan-tahapan sebelum kami ditempatkan di sekolah, gue langsung stress. Gimana gue gak stress kalo tahapannya banyak begini:

TES AKADEMIK: 23 Mei
PELATIHAN 1 (Pembuatan Media pembelajaran berbasis IT): 30-31 Mei
PELATIHAN 2 (Revolusi Mental dan Pelatihan Pembuatan Penelitian Tindakan Kelas): 13-14 Juni
TES MICROTEACHING: 1 Agustus
PENEMPATAN PLP: 5 Agustus
PELEPASAN MAHASISWA: 8 Agustus

Nilai dari tes dan pelatihan itulah yang dijadikan dasar untuk menentukan di mana gue dan temen-temen lainnya bakal diterjunkan.

TES AKADEMIK

Beberapa pesan dari dosen sebelum tes ini dimulai adalah:
“Kalian baca buku Ekonomi SMA kelas X dan XI.”

Beberapa mahasiswa mulai merasa stress, “Semuanya, Pak?”

“Cukup semester satunya saja.”

Kami gak jadi stress.

“Oh iya, baca kurikulum 2013 dan KTSP, ya!” Lanjut sang dosen.

Kami gak jadi untuk gak jadi stress. Kami stress dan mulai pura-pura gila.

Saat tes dimulai, ada 40 soal pilihan ganda, 5 Essai. Gue gak ngerti sama sekali karena gue SMA-nya jurusan IPA. (Plis, jangan kaget ada anak IPA jadi guru ekonomi). Soal pilihan ganda gue isi sembarangan, soal essai gue isi 3 nomor. Gue cukup lega karena dosennya bilang, “Kerjakan sendiri, jangan menyontek. Karena hasil tes ini untuk penilaian penempatan kalian. Kalo nilai kalian bagus hasil dari menyontek, lalu ditempatkan di sekolah yang bagus kan bahaya.”

Gue manggut-manggut. Berharap dengan hasil kerjaan gue itu bakal ditempatkan di sekolah yang biasa-biasa aja.

PELATIHAN 1 DAN 2
Gak ada yang seru di dua pelatihan ini karena gue fokus… menahan ngantuk selama pelatihan. Gimana gak ngantuk kalo pelatihan mulai dari pukul 8 pagi sampai 4 sore?! Padahal pematerinya udah dari berbagai kalangan, mulai dari universitas muhammadiyah Cirebon, Universitas Mulawarman, LPMP dan… lupa. Gue kayaknya ketiduran.
Ceritanya habis pelatihan. Ceritanya.
Skip.


TES MICROTEACHING
Apa itu microteaching? Microteaching itu kita mengajar di depan teman-teman kita yang berakting menjadi murid. Isu awalnya di tes ini kita bakal mengajar tanpa ada audiens. Yang ada cuma pengawas dari SMA yang bakal kita jadikan tempat praktik.

Iya, jadi kayak orang gila gitu ngomong sendiri. Gue bayanginnya aja udah serem.

Untungnya pengawas ruangan gue berbaik hati dengan memperbolehkan temen-temen gue yang lain ada di ruangan. Walau di dalam ruangan cuma ada 10 orang, tapi ini lebih baik daripada gak ada sama sekali. Ruangan gue diisi oleh 11 Mahasiswa. Tiap mahasiswa diberi waktu 20-30 menit untuk tampil. Kebetulan gue kena nomor urut 8. Bisa agak tenang maju terakhiran~

Satu persatu temen-temen gue maju. Tiap mereka selesai tampil, gue malah makin deg-degan. Hingga akhirnya giliran gue tiba juga.

“Yak, Nomor urut 8. Yoga.”

Gue tarik nafas dalam-dalam dan… maju ke depan kelas dengan penuh percaya diri. Untungnya gue ikutan komunitas stand up comedy, jadi kalo berdiri dan ngomong di depan banyak orang udah lumayan biasa. Yang jadi masalah adalah: gue sering cengengesan sendiri. Tiap materi yang gue sampaikan bawaannya pengin gue jadiin jokes mulu, hasilnya, gue mulai cengengesan.

GURU MACAM APA YANG JELASIN MURIDNYA SAMBIL CENGENGESAN?!

Gue coba tampil tenang, pelan, elegan. Hingga akhirnya gue sudah masuk ke bagian penutup materi. Temen gue bisikin, “Yog, kamu baru 16 menit.”

“Waduh, ejakulasi dini nih.” kata gue. Dalam hati.

Akhirnya, gue coba akali dengan cara… mengulang-ulang kesimpulan dari materi gue dengan langkah:

1. Bertanya ke murid “Apa kesimpulan dari materi ini?”
2. Mengucapkan ulang kesimpulan yang diucapkan murid.
3. Bertanya lagi ke murid dengan dalih agar mereka ingat.
4. Kembali ke langkah nomor 1.


Gue pun selesai tampil dengan perasaan lega. Leganya mirip saat kita kebelet, lalu ketemu wc. Serius.
 
selesai tes microteaching. Keluar kelas like a boss.
PENGUMUMAN PENEMPATAN

Selesai tes microteaching, gue gak bener-bener tenang. Tanggal 5 bakal ada pengumuman penempatan. Jujur, gue takut ditempatin di sekolah yang bagus. Takut aja gitu kalo muridnya lebih pinter daripada gue. Misalnya nih gue salah jelasin, lalu ada murid kritis nyeletuk, “PAK, KAYAKNYA BAPAK SALAH DEH.”

Gak mungkin kan gue bakal ngeles, “Maaf, yang tadi jelasin itu kepribadian bapak yang lain.”

Bisa-bisa gue dirajam di kelas.

Menunggu hasil pengumuman penempatan ini sukses bikin hari-hari gue menjadi gak tenang. Gue berharap tanggal 5 Agustus cepat datang biar hidup gue menjadi tenang tanpa harus menunggu dengan penuh ketidakpastian. Digantungin gini emang gak enak, cuy!

Contoh nyata gue pengin cepet-cepet tau hasil pengumumannya adalah saat gue nginap di rumah sohib gue, Dana. Saat itu kita kelaparan dan keluar nyari makan pukul 2 pagi. Kita makan di warung nasi goreng.

“Habis ini langsung pulang, ya? Ngantuk.” Kata Dana sambil mengunyah nasi gorengnya.

“Jangan deh.” Tolak gue.

“Lah, mau ke mana lagi?”

“Kampusku, yok. Sekarang kan tanggal 5. Siapa tau pengumumannya udah ditempel di depan fakultas.”

“INI KAN PUKUL 2 PAGI!”

“Ya, kan sekarang tanggal 5.”

“….”

Paginya, gue ke kampus dan mendapati bahwa… pengumumannya gak jadi tanggal 5. Banyak isu yang beredar saat itu. Ada yang bilang pengumumannya tetap tanggal 5 tapi pukul 12 siang.  Ada yang bilang pengumumannya besok. Ada juga yang bilang pengumumannya hanyalah mitos belaka.

Gue coba tunggu sampai pukul 12 dan ternyata, pengumumannya belum keluar juga. Gue kesel. Udah digantungin, di-PHP-in pula. Huft.

Tanggal 6 Agustus juga sama. Pengumuman penempatan belum ada tanda-tanda keluar. Gue sempet mikir, “INI PENGUMUMAN APA HILAL, SIH?!”

Gue coba tenang dan berpikir positif. Pelepasan mahasiswa ke guru pamong (pendamping) itu tanggal 8 Agustus. Kemungkinan pengumuman pasti sebelum tanggal 8, paling telat ya tanggal 8 itu. Gak masalah sebenernya, asal jangan telat 3 bulan aja sih. Bahaya.

Tanggal 7 Agustus, khusus prodi gue yaitu Ekonomi ada sebuah pembekalan materi agar saat terjun ke lapangan, kita tidak memberikan ilmu sesat kepada murid-murid. Gue pun datang ke kampus dengan bersahaja. Baru aja masuk ke dalam fakultas, sudah ada beberapa teme-temen gue yang bergerombol sambil memegang kertas. Sedetik kemudian mereka histeris.
“AAAAAKKKK… AKU KENA SMA 8. JAUH DARI RUMAAAAH.”
“AAAAAAKKK… AKU KENA SMA 3. AKU BUTA ARAAAAHHH…”
“AAAAAAKKK… KAKIKU KEINJEK, WOI!”

Mendengar jeritan mereka, gue menyimpulkan bahwa kertas yang mereka lihat adalah pengumuman penempatan. Gue segera mendatangi gerombolan itu dan langsung disambut dengan ucapan temen gue, “Yog, kamu kena di SMA 5.”

JEGEEEERRRR!!!

Gue shock! Mulut gue nganga, mata gue melotot sebelah. Gue bakal balik ke SMA gue dulu. Gue langsung terbayang betapa awkward-nya saat gue di sana, apalagi saat ketemu dengan guru-guru.

“Loh, Yog? Kamu magang di sini?” kata guru gue.

“Iya, Pak. Kebetulan kena ditempatkan di sini. Hehe…”

“Kamu ngajar apa? Matematika, ya?”

“Ummm… Ekonomi, Pak.”

“LOH?! KAMU KAN DULU ANAK IPA? KOK NGAJAR EKONOMI?!”

“Anu… Itu kepribadian saya yang lain, Pak.”

Imajinasi itu gue tepis jauh-jauh. Gue gak terlalu percaya sama ucapan temen gue itu. Kertas yang mereka pegang gue ambil, mencari nama gue dan ternyata… 
kertas begini aja sukses gantungin gue. hhhh...
 Gue kena di SMA 7. Gue segera sujud syukur. Selain terhindar kembali ke SMA gue dulu, jarak SMA 7 dengan rumah gue itu lumayan dekat. Sekitar 10-15 menit.

Tau gue ditempatkan di sekolah yang jaraknya lumayan dekat, gue langsung disirikin oleh beberapa teman. Ada yang rumahnya di daerah Balikpapan Timur, ditempatkan di sekolah di Balikpapan Utara. Kira-kira butuh 1 jam untuk menuju ke sana. Fix, dia berangkat ke sekolah saat subuh. Kasian.

PELEPASAN MAHASISWA KE GURU PAMONG

Tanggal 8 Agustus pun tiba. Acara pelepasan mahasiswa ke guru pamong dari tiap sekolah yang ditempatkan bakal dimulai pukul 9. Di acara itu dijelaskan sistematika dan hal-hal teknis selama kami, para mahasiswa, magang di sekolah. Apa-apa saja tugas dan kewajiban mahasiswa dan guru pamong. Apa-apa saja yang tidak boleh dilakukan saat magang, misalnya tidak memakai pakaian PLP (kemeja putih, celana kain warna hitam), merokok dan modusin dedek-dedek SMA.

Berita buruknya, kami sudah harus ke sekolah tanggal 10 Agustus.

Yeah, ketika postingan ini diketik, gue udah seminggu PLP di SMA 7. Kalo sempet, gue bakal lebih banyak nulis pengalaman gue selama magang. Doakan aja PLP gue berjalan lancar tanpa hambatan untuk 2 bulan ke depan.
 
gabut di kantor guru.
CIAO!

You're worse than nicotine

Jam dinding yang tergantung di dinding belakang kafe sudah menunjukkan pukul 10 malam. Itu artinya aku sudah 2 jam berada di kafe ini, sendirian. Entah sudah berapa puntung rokok yang kubuang ke dalam asbak yang ada di atas mejaku. Asbaknya hampir penuh dengan puntung, abu dan kenangan masa lalu. Aku mengambil botol bir bintang radler yang sudah kuminum setengah. Embun dibotolnya terasa dingin di tangan. Sedingin sikapmu sebelum meminta untuk mengakhiri hubungan kita, 1 minggu yang lalu.

Hari ini tepat 2 tahun yang lalu kita bertemu. 

Sebuah ‘kecelakaan’ yang seharusnya membuatku emosi berat, tapi begitu melihat siapa dalang di balik kecelakaan itu, emosiku surut seketika. Saat itu aku sedang mengerjakan proposal skripsiku di kafe ini. Aku mulai kehabisan kata-kata, kuambil secangkir hot cappucinno yang ada di samping laptopku, baru saja kuangkat cangkirnya, tangan kananku terhempas begitu saja ke arah samping. Kopinya tumpah ke laptop dan celanaku. Laptopku seketika mati, selangkanganku terasa panas, dua buah masa depanku terancam seketika. Aku menoleh dengan cepat ke belakang dan siap mengabsen para hewan di kebun binatang di depan orang yang berani-beraninya melakukan perbuatan ini padaku.

Begitu aku menoleh, sesosok cewek berambut hitam sebahu, dengan kacamata ber-frame besar menempel di wajahnya yang tampak pucat ketakutan, matanya tampak bulat dan besar, bibir tipisnya berkata terbata-bata, “Ma-maaf.” Lalu tersenyum kecil. Aku bisa membaca ekspresi ketakutanmu saat itu.

Iya, sosok itu adalah kamu.

Cukup lama aku terpana menatapmu. Senyumanmu membuat berbagai nama hewan yang hendak kuabsen menjadi sebuah ajakan perkenalan. “Oh... iya gak apa-apa, kok. Nama kamu siapa? Aku Reza.” Aku menyodorkan tanganku.
Mungkin saat itu di bibirmu sudah ada cupid yang menggelayut manja. Panahnya kini tertancap tepat di hatiku yang terdalam.

“Uhmmm… Aku Stella.” Tanganmu tampak ragu saat menjabat tanganku, “yakin gak apa-apa? Itu laptop kamu ketumpahan kopi, kan?” katamu panik.

“Bisa diservis, kok kalo rusak. Udah gak apa-apa.” Kataku sok tegar. Padahal proposal skripsiku tadi sudah masuk bab 3 dan belum ku-save.

“Ummm… itu celana kamu juga ketumpahan kopi?” katamu lagi sambil menunjuk ke celanaku yang tadinya berwarna abu-abu, kini menjadi coklat.

“Udah gak usah dipikirin. Gak apa-apa, kok.” Jawabku sambil mengusapkan tissue di bagian celanaku yang basah.

“Emang kalo itu rusak, bisa diservis juga?”

Lalu ada hening yang lama. Pipimu merona merah. Disusul pecahnya tawaku karena perkataanmu barusan. “Anu, maksudku celanamu, ya!” katamu berusaha mengklarifikasi. Aku masih tertawa dan menawarimu duduk di mejaku, kamu mengangguk setuju. Setelahnya kita habiskan 4 jam di kafe itu untuk saling bercerita tentang kisah hidup kita masing-masing. Sesederhana itulah kita bertemu dan jatuh cinta.

2 tahun bersama membuatku menjadi orang yang lebih baik. Setiap kebiasaanku yang kamu tidak suka selalu langsung kuhentikan. Misalnya aja begadang, main game online dan ngupil di depan umum secara brutal, lalu upilnya kutempelin di pipinya. Semua kebiasaan jelek itu berhasil aku hentikan saat hubungan kita jalan satu bulan. Ada satu kebiasaanku yang agak susah dihentikan, yaitu merokok.

Aku sudah mulai merokok ketika kelas 2 SMA. Awalnya aku coba-coba mulai membeli sebatang dua batang, hingga akhirnya kebablasan sebungkus, setiap hari.

Kamu selalu marah setiap kali kita bertemu apa bila bajuku bau rokok. Segala jenis parfum yang kusemprotkan mulai dari Casablanca, kispray dan wipol tidak mampu mengalahkan aroma rokok yang sepertinya begitu sensitif di hidungmu.
“Kita gak usah ketemu kalo kamu bau rokok.” Ancammu saat itu dengan bibir dimanyun-manyunin. Aku tarik hidungmu dan bilang, “Iya bawel!” lalu kamu tersenyum, aku meleleh lagi.

Tar dan nikotin di rokok emang menimbulkan efek ketagihan. Susah untuk menghentikan kebiasaan merokok yang statusnya kini menjadi sebuah kebutuhan. Dari dulu sebenarnya aku sudah pengin menghentikan kebiasaan merokok ini. Tapi Butuh niat, usaha dan alasan yang kuat untuk menghentikannya. Hingga akhirnya aku menemukan alasan yang kuat untuk berhenti: demi bertemu dan melihat senyummu.

Butuh 6 bulan lebih bagiku untuk berhenti merokok. Oral habit yang biasanya menghisap rokok kini kuganti dengan mengemut lollipop. Awalnya teman-teman sekampusku mengolokku karena kebiasaan baruku ini.
“Bah, muka sangar tapi ngemut lollipop!” kata mereka.

Aku tidak peduli. Satu-satunya yang aku pedulikan adalah hasil dari kebiasaan baru ini. Untungnya, hasil yang kudapat sesuai dengan yang kubayangkan. Kamu jadi sering ndusel-ndusel ke badanku karena aku sudah tidak bau rokok, yang lebih penting, kamu selalu tersenyum jika bersamaku.

Sepeninggalanmu, aku benar-benar kecewa. Rokok yang sudah menjadi abu di asbak ini adalah pelampiasanku. Aku meminum radler yang ada di tangan kiriku, dinginnya bir melewati tenggorokanku yang terasa asam karena rokok. Aku kembali menyulut rokok yang ternyata rokok terakhir dari bungkusnya. Aku hisap dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke udara, berharap semua kenangan yang tersimpan di pikiranku ikut terbuang bersamanya.

Aku merasa bodoh masih mengingat setiap detail kenangan tentang kita. Apakah kamu masih ingat jika hari ini, tepat 2 tahun lalu kita bertemu? Apakah kamu ingat bagaimana usahaku untuk berhenti merokok? Apakah kamu ingat saat kamu ngamuk di tengah jalan karena mendapatiku masih menyimpan rokok di kantong jaketku? Apakah kamu ingat aku datang ke rumahmu hujan-hujanan tepat pukul 12 malam saat kamu ulang tahun? Apakah kamu ingat saat kita kehujanan dan berteduh di depan sebuah toko, kamu memelukku erat sekali?

Jawabannya mungkin tidak. Setiap kenangan yang kita lalui mungkin hanya menjadi angin lalu bagimu. Melupakanmu tidak semudah mengganti namaku di status BBM-mu menjadi nama cowok lain, yang baru saja kamu lakukan. Kenangan selama 2 tahun seakan-akan tidak pernah terjadi. Segampang itu ternyata, ya? Disaat aku masih mengharapkanmu untuk kembali, kamu sudah bahagia dengan cowok lain.

Sayup-sayup mulai terdengar lagu terputar dari kafe ini. Sebuah lagu dari band favorit kita berdua, Panic! At the Disco.
Just one more hit and then we're through
'Cause you could never love me back
Cut every tie I have to you
'Cause your love's a fucking drag
But I need it so bad
Your love's a fucking drag
But I need it so bad
Yeah, you're worse than nicotine, nicotine
Yeah, you're worse than nicotine, nicotine

Iya, aku masih belum bisa merelakanmu seperti aku meninggalkan kebiasaanku merokok dulu. Aku masih kecanduan akan cintamu.


Yeah, you’re worse than nicotine.

****

Hoho. Gue nyoba ikutan tantangan tiga rasa-nya Kresnoadi. Jadi, di tantangan itu kita disuruh untuk membuat tulisan dengan menggunakan minimal tiga macam indera di antara 5 indera yang kita punya yaitu pendengaran, penglihatan, peraba, pengecap dan penciuman. 

Tulisan gue di atas bercerita tentang cowok yang galau karena diputusin pacarnya setelah pacaran 2 tahun, seminggu kemudian pacarnya (okey, mantan) itu sudah punya pacar lain. Gue nyoba pake indera penglihatan (jam dinding & cewek), indera peraba yaitu kulit (dingin & panas), indera penciuman (aroma rokok). Maaf ya kalo masih salah, gue gak biasa nulis gini. Biasa asal tulis tanpa peduli ini indera apa. Muahahaha.

Btw, kayaknya gue ketagihan deh nulis kayak gini.

(Sok-sok) Review film Comic 8: Casino Kings

Tanggal 22 Juli kemaren gue baru aja nonton film comic 8: kasino kings. Telat seminggu dari tayang perdananya, sebenernya sengaja telat nonton karena saat itu masih puasa, gue gak pengin pingsan di tengah antrian beli tiket karena gue yakin, hari 3 hari pertama pasti rame banget.


Dan pas beli tiket kemaren… ternyata masih rame. Bajigur.

Oiya, kenapa gue pengin nonton film ini? Jelas karena film pertamanya menurut gue berhasil, filmnya di luar ekspektasi gue. Ditambah lagi, tanggal 1 Mei sebelumnya, salah satu actor di film itu, Ernest Prakasa mengadakan stand up comedy tour #HAPPINEST di kota gue, Balikpapan, yang di show itu dia memberi tahu bahwa film comic 8 casino king tanggal tayangnya diundur menjadi bulan Juli karena mereka gak pengin ngulang animasi a la indos*iar di film pertama muncul di sekuelnya. Ditambah sebelumnya gue sudah nonton teasernya, di mana ada adegan buaya raksasa ngejar-ngejar para comic, animasinya sudah lumayan cihuy. Ekspektasi gue akan comic 8 casino kings semakin bertambah.


Yang jadi pertanyaan: apakah comic 8 casino king memenuhi ekspektasi gue? So, biarkan gue sok-sok ngereview film ini.

Jujur gue baru tau pas sudah sampai di bioskop kalo ternyata film ini dibagi menjadi 2 part. Belajar dari film-film yang dibagi menjadi 2 part seperti mockingjay, part 1 biasanya hanya pengenalan masalah doang, ekspektasi gue turunin.

Gue berusaha menikmati alur film yang sama seperti di film pertamanya. Alurnya maju-mundur dan semacam teka-teki yang bakal menjawab kebingungan kita, “Loh kok gini?” pas bagian pemecahanan masalahnya kita bakal, “ohhh… ternyata gitu.” Alurnya mudah untuk dimengerti, gak pake banyak mikir juga bakal ngerti, kok.

Dari segi komedi, jujur gue agak kecewa karena banyak jokes-jokes yang menurut gue gagal dieksekusi dengan baik. Satu studio bahkan sempet hening di pertengahan film, ntah gak ngerti jokesnya atau gimana. Untungnya masih tertolong dengan adegan para komika yang tampil dengan bit-bitnya ketika di acara stand up comedy tour. Jokes penuh pesan moral yang ada di film pertamanya, seperti ketika Boy William dimarahin karena ngoceh mulu pake bahasa inggris, juga porsinya kurang di film keduanya ini. Yang gue inget jokes pesan moral di film ini saat Arie Kriting nyindir PT Free*port, itu pun sepertinya penonton gak ngeh maksudnya.

Dari segi acting, dari film pertama gue paling suka actingnya Babe cabiita. Ntah kelakuannya yang menjijikan tapi lucu dan logat bicaranya, bener-bener berhasil bikin ketawa. Ge Pamungkas yang dipilih sebagai pengganti Mudy Taylor pun berhasil menjalankan perannya dengan baik. Di film ini juga selain isinya para komika, diisi juga oleh actor-aktor senior seperti Barry Prima, Lidya kandau dan… banyak lagi.

Karena film ini dibagi menjadi 2 part, gue sempet ngerasa part 1 ini seperti memperpanjang durasi film karena banyak adegan-adegan yang sebenernya tidak terlalu penting, mungkin karena sang sutradara merancang sebuah kasus dan konflik besar, sehingga part 1 ini isinya benar-benar dasar permasalahan “kenapa kita di sini?” dan sang sutradara sepertinya sengaja menyimpan adegan-adegan hebohnya di part 2.

Overall, walaupun gagal memenuhi ekspektasi gue, comic 8 casino kings tetap gue rekomendasiin buat ditonton. 20 menit pertama perut kita bakal dikocok habis-habisan karena kelakuan bodoh dan percakapan para komika yang kebingungan. Oiya, sebaiknya kalo nonton jangan sendirian, bawa temen yang banyak biar enak ketawanya. Kita tunggu part 2-nya!

Skor: 3/5