SilumanCapung

Samarinda: what a day!

[Cerita PART. 1]
[Cerita PART. 2]


Cari penginapan di daerah D.I Panjaitan itu kayak pipis sambil kayang. Susah! Rata-rata bangunannya adalah toko pinggir jalan. Mendadak terbayang kalo gak nemu penginapan, gue dan Dana bakal tidur ngemper di depan toko. Sambil saling berpelukan. Bayanginnya aja udah bikin gue merinding. “Pokoknya harus segera nemuin penginapan!” batin gue.


Jalan sudah berganti nama, gue lupa waktu itu gue masuk ke jalan apa namanya. Kalo gak salah jalan P.M Noor. Jalan dengan kecepatan sedang sambil tolah-toleh nyari penginapan. Hasilnya sama, nihil! Gue pun menepi ke pinggir jalan dan segera buka google, lalu segera mengetik kalimat “hotel mesum samarinda” oke, becanda. Gue ketik keyword “penginapan murah samarinda” di kolom pencarian. Setelah hasil pencariannya muncul, gue buka satu link dan bener aja, daftar hotel dan penginapan murah terpampang, lengkap dengan alamat dan harganya. Harganya rata-rata cuma Rp 100.000/malam. 

Kampretnya: KITA GAK TAU ALAMATNYA ITU DI MANA.

Samarinda: Tanya-tanya

[Baca cerita sebelumnya di sini] 

Perjalanan gue ke Samarinda kali ini gak beda jauh dengan perjalanan sebelumnya. Gue dan Dana asik ngobrol selama di perjalanan, cuaca juga lagi bersahabat, yang agak beda cuma arus lalu lintas. Sedikit lebih ramai karena weekend. Banyak yang menuju Samarinda atau pun pulang ke Balikpapan. Ada juga yang pulang ke pelukan mantan. Ada.

Pukul 12 kurang kami sampai di kilo 50. Kami juga duduk di tempat yang sama seperti perjalanan sebelumnya. Dana segera memesan tahu sumedang dan kopi hitam, gue sendiri pesen kopi susu. Kata orang kalo lagi capek emang paling pas minum kopi susu. Kopinya diminum, susunya diremes. Ntah maksudnya apa, gue polos gak tau apa-apa.

Dana menyulut rokok class mild-nya, menghisapnya dalam-dalam, kemudian memhembuskan asapnya yang beberapa kali tertiup angin menerpa muka gue. Gak banyak topik yang kita bicarakan. Satu-satunya hal penting yang kita diskusikan adalah jam berapa berangkat lagi?

“Jam setengah 1 lanjut, ya?” saran gue.

Dana mengangguk setuju.

Baru beberapa menit menikmati hangatnya kopi, Dana tampak gelisah di tempat duduknya. Beberapa kali dia melakukan gerakan duduk-mau berdiri-gak jadi-duduk lagi. Gue sempet ngira dia cepirit. Atau ambeien. Atau ambeien sambil cepirit.

“Aku ke sana dulu, ya. Kayaknya itu temenku, deh.” Tunjuk Dana ke arah belakang gue. Gue menoleh, ada sekitar 5 orang remaja lagi ketawa-ketiwi.
Dana pergi ke belakang. Gue harap dia gak pergi terlalu lama karena perjalanan ini perjalanan mengejar waktu.

5 menit berlalu…

10 menit berlalu…

15 menit berlalu….


WANJIR INI ANAK KE MANA KOK GAK BALIK-BALIK?!

Gue menoleh ke belakang, Dana lagi ikut ketawa-ketiwi. Ternyata mereka emang beneran temennya Dana. Mau gue susulin tapi gak enak. Gue bakal jadi sohib yang egois, cuma mentingin kepentingan gue aja. Gak beberapa lama, Dana balik ke meja gue bareng seorang temannya. Ternyata mereka kumpulan temen kuliahnya Dana dulu. Tujuan kita sama. Sama-sama mau ke Samarinda. Ngobrol-ngobrol sebentar, mereka pun pamit melanjutkan perjalanannya duluan. Gue lirik jam, udah hampir pukul 1 siang. Mau sampai di Samarinda jam berapa, nih? Mampus.

Dana tau kegelisahan gue. Dia segera meminum habis kopi hitamnya dalam 3 kali teguk. Gue jadi curiga kalo sekarang Dana kesurupan Onta. “Ayo berangkat.” Kata Dana. Gue pasang slayer di muka dan menuju motor gue.

Perjalanan selanjutnya gue ditemani oleh cuaca yang labil. Yang tadinya terik banget, mendadak mendung di sekitar kilometer 70. Awan gelap, beberapa kali tampak petir menyambar, butiran gerimis mulai turun menerpa kaca helm gue.
“Kayaknya hujannya di daerah sini aja, di sana cerah.” Kata gue sambil menunjuk awan.

“Iya, terobos aja.”

Gue geber si Fixie sampai kecepatan 80 km/jam.

5 menit kemudian hujan deras. Banget.

Kita berteduh di pendopo pinggir jalan. Anti-klimaks.
 
si fixie kehujanan :')
“Sudah jam setengah dua lewat. Mana hujannya kayaknya awet gini…” kata gue. Putus asa. Kalo aja saat itu gue berteduh di depan rumah orang, gue bakal bikin embun di kaca jendelanya dan nulis-nulis, “I miss you” banyak-banyak.
30 menit kemudian hujan mulai reda, sisa rintik-rintik kecil.

“Terobos, yok?!”

“Gak bahaya? Licin loh jalanan.” Ucap Dana pelan.

“Ya pelan-pelan aja. Insya Allah, aman!”

“Pelan?”

“Iya… kecepatan 50 atau 60 km/jam aja.”

“ITU LAJU KAMPRET!!!”

Tanpa persetujuan Dana, gue menuju Fixie dan menaikinya. Dana gak punya pilihan lain selain ikut gue. MUAHAHAHAHA.

Untungnya keputusan gue kali ini tepat. Memasuki kilometer 80, cuacanya panas banget. Mungkin saking panasnya, kita pecahin telur di atas jalanan, telurnya mateng jadi telur ceplok. Cuaca terik ini bertahan sampai kita tiba di perkotaan Samarinda. Baju yang tadinya basah, kini sudah kering di jalan. Keren abis.

Pukul setengah 3 siang kami baru sampai di Samarinda. Ngaret sejam dari perkiraan gue. Ditambah siang itu Samarinda lagi macet banget gue jadi pesimis bisa ketemu Fita sebelum dia berangkat ke Buddhist Center.

Gue mulai percaya, “jangan merencanakan sesuatu, karena biasanya malah gagal.”

Kita berdua menuju SCP, untuk istirahat sambil mencari jalan menuju Buddhist Center via google maps. Sama seperti perjalanan sebelumnya, McDonalds menjadi tempat utama untuk nyantai. Beberapa kali mencoba mencari jalan via google maps, yang ada kita bingung karena banyak jalan di Samarinda itu jalur satu arah. Takut aja kalo ngikutin maps, kita disasarin ke jalur satu arah, ditangkap polisi, gagal nonton konser. Sia-sia perjalanan.

Dari pada bingung, terpaksa gue ngabarin Fita kalo gue lagi di Samarinda. Meminta petunjuk jalan, sukur-sukur kalo dia belum pergi, jadi bisa pergi bareng. Persetan dengan so sweet. Niat gue ketemu, nonton dia tampil, liat dia senyum. Sesimpel itu. Sama seperti sebelumnya (lagi), gue kabari dia via chat kalo lagi di SCP.

Gue: Kamu dimana, car? Udah di tempat acara?
Dia: Aku lagi di salon, ntar lagi ke sana. Pending ya?


Aku lagi di perjalanan Balikpapan-Samarinda kali makanya lama balasnya. Muehehehe.

Gue: Iya, lagi parah jaringannya, car.
Dia: Oh.


Udah? OH doang? Okeh, aku chat yang bikin kaget, nih…

Gue: Aku di SCP loh, mau nonton kamu tampil ntar malem… :3
Dia: Coba kalo ke sini itu bilang-bilang gitu nah. Jadi bisa kuatur gimana-gimananya.


Lah, dia malah marah…

Dia: Pake tiket loh nontonnya.


Iye, tau neng… ini nge-chat sekalian minta antarin ke tempat beli tiketnya.

Dia: Terus gimana? Tau jalan?

Ya enggaklah! Kalo tau mah udah di tempat acara, bukannya di SCP.

Gue: Iya, ini mau beli tiket tapi gak tau jalan. Bisa bareng? :’)
Dia: Duh… ini masih di salon, aku juga naik mobil sama temenku.


Tuh, mampus, Yog. Sok so sweet, sih!

Gue: Ancer-ancernya kalo dari SCP lewat mana?
Dia: Aku baru 3x ke sana, car. Gak tau jalan di sana. Jauh banget pokoknya dari SCP. Sananya Alaya.


Kali ini beneran mampus kamu, Yog! Apa pula Alaya itu? Apa masih ada hubungan darah dengan Alay?!

Gak lama kemudian dia ngirimin peta lagi kayak sebelumnya. Sayangnya peta yang dikirim gak jelas karena di-zoom out terlalu jauh untuk nunjukin ke gue di mana posisi gue, di mana lokasi acara.

Dia: aduh aku jadi pusing kan. Ntar sampai sana gak boleh aktifin hape juga, gimana aku mau ngasih info buat kamu. Jam 5 udah harus siap semua di backstage.


Gue: Yaudah, aku cari sendiri ya… semoga ketemu. Udah, kamu fokus aja buat konsernya. Gak usah pikirin aku. :)


IYA, ITU GUE SOK TEGAR! ADA EMOT SENYUMNYA!

Gue dan Dana pun segera menuju parkiran. Kami nekat ngikutin google maps. Sampai di parkiran, sinyal provider kita berdua hilang. Kampret.

Kita berusaha mencari sinyal dan men-tracking ulang. Nihil. Sinyal tetep gak ada. Apa kah ini pertanda bahwa gue bakal gagal nemuin tempat acaranya.

“Mas, ngapain? Mau keluar?” suara gahar om-om tukang parkir membuat kita berdua kaget. Pas noleh, kita makin kaget. Perawakan om-om bersuara gahar ini juga didukung penampilannya yang gahar; Brewoknya tebel, rambutnya keriting, muka kayak kena radiasi kentut.

“Uhh… iya, mau keluar. Tapi masih bingung keluarin di mana.” Kata gue.

“HAH?!”

“Anu, maksud saya iya kita mau keluar tapi masih bingung nyari alamat.”

“Alamatnya di mana emang, mas?”

“Jalan D.I Panjaitan, om. Tau arahnya kalo dari sini?”

Om-om gahar tadi berusaha berpikir. Dia menggaruk-garuk jidatnya.

“D.I Panjaitan?” Suara orang asing lainnya muncul dari belakang kami. Seorang bapak-bapak yang ingin keluar dari parkiran ikut nimbrung. “Alaya?”

“AH IYA! ALAYA!!!” Ucap gue dan Dana bersamaan. Ingat kata Fita sebelumnya.

“Masih jauh sih dari sini. Tapi masnya ini lurus, belok kanan, ntar ada jembatan kuning, setelah jembatan belok kiri. Ntar lurus aja, Tanya-tanya orang lagi. Tapi udah deket kok itu ntar.” Terang si bapak tadi.

“Lurus, belok kanan, ada jembatan kuning, belok kiri?” Tanya gue memastikan.

“Bukan, mas.” Sanggah si bapak. “Setelah jembatan kuning, baru belok kiri.”

“Aduh, kok jadi bingung ya?” gue garuk-garuk kepala. “Coba ucapin bareng, Pak.”

“Lurus.”

“Lurus.”

“Belok kanan, ada jembatan kuning.”

“Belok kanan, ada jembatan kuning.”

“Setelah jembatan, belok kiri.”

“Jembatan, belok kiri.”

“SETELAH, MAS! SETELAH JEMBATAN BARU BELOK!”

Gue pun iyain aja, takut bapak-bapak tadi emosi dan berubah jadi makhluk hijau raksasa dan menghancurkan kota. Setelah mengucapkan terima kasih, perjalanan gue mencari lokasi acara pun dimulai.
*****
Gue geber si fixie dengan kecepatan sedang, mengikuti arahan bapak-bapak di parkiran tadi. Setelah melewati jembatan kuning yang di maksud, gue belok kiri dan lurus aja. Sambil tolah-toleh mencari nama jalan. Karena takut nyasar, di sebuah pertigaan kami berhenti untuk numpang nanya lagi. Kami berhenti di sebuah warung kopi, tepat di depan pertigaan. Di dalam warung itu ada tiga ekor bapak-bapak. Dana sebagai orang yang kerjaannya gue bonceng aja gue utus untuk melaksanakan tugas mulia ini.


“Permisi, Pak. Numpang Tanya… Jalan D.I Panjaitan lewat mana, ya?”

Ketiga bapak-bapak tadi bengong.

“D.I Panjaitan?” seorang bapak tua mengulang pertanyaan Dana sambil garuk-garuk kepalanya, “Waduh gak pernah denger, dek.”

LAH? NYASAR NIH?!

“Psssttt! Alaya! Alaya!” teriak gue dari atas motor.

“Uhhh… Kalo Alaya, Pak? Tau jalan menuju sana?” Tanya Dana.

“Oh kalo Alaya, tau!” Kata si bapak penuh keyakinan. “Mas belok kanan, nih. Luruuuuuuuuuuuuuuus aja sampai ketemu lampu merah.”

“Lalu?”

“Ya stop, lah. Ntar adek ditangkap polisi kalo nerobos.”

“….”

“Habis dari lampu merah, adek luruuuuuuus lagi sampai ketemu lampu merah lagi.”

“Lalu stop lagi?”

“Bukan, adek Tanya-tanya aja lagi di sana. Udah deket kok.”

“Errrr… Ya sudah, terima kasih banyak, Pak.”

Dana pun kembali naik ke jok belakang, gue tancap gas dengan kecepatan sedang lagi. Tolah-toleh nyari nama jalan selama 10 menitan, akhirnya kami bertemu di lampu merah pertama. Gue jalan terus.

“Nyet. Stop! Stop!” Dana menepuk-nepuk pundak gue.

“Kenapa lagi? Kebelet pipis?”

“Kata bapak tadi ketemu lampu merah pertama harus stop, kalo nerobos ntar 
ditangkap polisi. Sia-sia perjalanan kita.”

“TAPI ITU LAMPUNYA LAGI IJO!”

Mendadak gue pengin turunin Dana dan ninggalin dia tersesat sendirian di kota orang.

Sampai di lampu merah kedua, kita mutusin untuk berhenti dan bertanya lagi. Dana pun gue utus lagi. Kali ini kami bertanya dengan orang random yang lagi jalan kaki, mirip acara kuis-kuis gitu. “Permisi, Pak… numpang Tanya. Jalan menuju Alaya masih jauh?”

“Ummmm… Alaya, ya?” Jidat si bapak tampak berkerut 5 lipatan. “ITU ALAYA ADA DI SEBRANG JALAN, MAS.”

Wanjir, ternyata Alaya ada di sebrang jalan! Ada tulisannya gede! Kita dikerjain bapak-bapak di warung kopi. Sebelum si bapak-bapak ini berubah jadi makhluk hijau raksasa dan mulai menghancurkan kota, kita berdua pergi, tak lupa mengucapkan terima kasih.

“Katanya Fita, Buddhist center ada di sananya Alaya. Berarti lurus aja lagi nih?”

“Kayaknya sih. Tuh liat nama jalannya udah D.I Panjaitan.” Tunjuk dana ke sebuah plang jalan berwarna hijau yang catnya mulai luntur dan berkarat.

Gue tersenyum. Akhirnya sampai juga. Tinggal nyari Buddhist center aja dan pasti gampang. Logikanya, tempat ibadah gitu pasti letaknya di pinggir jalan, minimal keliatan bangunannya dari jauh. Sebelum melanjutkan perjalanan, gue isi bensin di SPBU dan memfoto plang Alaya, gue kirim ke Fita biar dia gak pusing mikirin gue dan bisa fokus ke konsernya aja. Tau gini mending ke rencana pertama aja, ya?

Di SPBU itu kita kembali nanya ke seorang mas-mas biar gak nyasar aja. Ternyata bener, tinggal lurus aja dan bangunan Buddhist center keliatan dari pinggir jalan. Dengan semangat 69 gue geber lagi si Fixie mencari lokasi acara. 15 menit kemudian alias tepat pukul 4 sore kita berhasil menemukan Buddhist center. Saat itu gue bener-bener pengin nyanyi lagunya Naff - Akhirnya kumenemukanmu.

“Masuk ke dalam, nih?” Tanya gue.

“Kemaren aku telpon contact person tiketnya, katanya beli langsung di lokasi acara.” Kata Dana.

Okeh. Kami berdua jalan menuju pintu masuk. Ini pertama kalinya kita masuk ke rumah ibadah agama lain. Sampai di depan tangga, ada tulisan lepas alas kaki. Semacam batas suci kalo di masjid gitu. Kita galau ini lepas sepatu apa enggak. Selayaknya orang Indonesia, melanggar aturan sudah mendarah daging dalam tubuh kami. Dana menginjakkan kakinya ke satu anak tangga dengan sepatu.

“PRIIIIITTTT!!!!!” Suara peluit security terdengar. Kita berdua menoleh ke sumber suara. Security memberikan kode untuk melepas sepatu. Untungnya kode melepaskan sepatu, bukan melepaskan baju. Atau melepas masa lajang. Gue belum siap.

Kami datangi security tadi dan menjelaskan maksud tujuan kita. Mau beli tiket konser untuk nanti malam di lantai 3.

“Oh konser ntar malam? Ya belinya ntar aja jam 7.” Kata si security.

“Oh gitu. Emang belum ada orang di lantai 3? Panitia acaranya gitu?” Tanya Dana.

“Belum ada, mas.”

“Errr… Oh iya, ntar kalo nonton konsernya lepas sepatu apa enggak?” Tanya gue.

Mendengar pertanyaan gue, om security memandang gue dengan ekspresi sumpe-lo-nanya-gitu?

“Oh kalo ke konser ntar naik lift yang ada di luar situ, jadi gak perlu masuk ke dalam. Kalo mau masuk ke lantai satu aja baru lepas sepatu. Lantai 1 emang khusus tempat ibadah.”

Gue dan Dana manggut-manggut. Kami mulai ngobrol-ngobrol dan Tanya-tanya soal tempat untuk membuang waktu sampai pukul 7 malam.

“Mas, tau di mana penginapan atau hotel di sekitaran sini?” Iya, kita nyari penginapan buat nginap sekaligus mandi. Masa mau ke konser gak mandi?

“Waduh, gak ada kalo di sekitaran sini, mas.”

“Kalo mall, deh? Mall…” Iya, plan B. Kalo gak nemu penginapan, kita cukup cuci muka di wc mall. (LAH, APAAN NIH GUE KATANYA KALO KE KONSER HARUS MANDI.)

“Mall banyak, yang deket itu di Alaya, ntar ada Giant.”

“Kalo suneo, mas?”

Security tadi langsung pergi ninggalin kami berdua, tanpa menjawab pertanyaan gue. Jahat.

Kami berdua mutusin untuk keliling nyari penginapan dulu. Waktu 3 jam pasti cukup buat nemuin penginapan. Baru aja mau pergi dari parkiran, ada seorang cowok memarkirkan motornya di depan gue. Dia memakai baju dengan nama tempat lesnya Fita dulu. “Kayaknya itu panitia, deh. Coba tanya dia jual tiketnya apa enggak?”

Dana berdiri meninggalkan gue di motor sendirian. 5 menit kemudian dia kembali dengan 2 lembar tiket di tangan.

“Oke, sisa cari penginapan.”

Perjalanan gue kembali dilanjutkan. *pukpuk punggung*


[TO BE CONTINUED]

Samarinda: Sebuah Rencana.

Bulan April kemaren gue nobatkan sebagai bulan terkampret selama 4 bulan pertama di tahun 2015. Gue dan bulan April kayaknya bener-bener gak jodoh dalam banyak hal. Mulai dari perkuliahan hingga ke percintaan.

Awal bulan April gue udah disambut dengan ujian tengah semester (UTS). Kampretnya, beberapa dosen ngasih UTS tanpa pemberitahuan dulu, tiba-tiba aja ngasih soal dan kertas folio. “Yak, kita UTS.” Kata sang dosen. Untungnya masih mendadak ngasih UTS, bukan mendadak menyatakan perasaan. Kalo untuk hal ini, gue belum siap.

Pertengahan April gue mulai kangen lagi sama pacar.

The Nekat Traveler: Ketemu!

[Baca cerita sebelumnya di sini.]
“Jadi nyasar, nih?” 

Dana mengangguk, “Kayaknya gitu.”

GUE BENERAN NYASAR KAYAK YANG GUE PREDIKSIIN KAN!!! MANA HAPE GAK ADA SINYAL! JAM MAKAN SIANG UDAH MAU SELESAI! FITA UDAH MAU KULIAH LAGI! AAAAAKKKK!!! Asli, gue panik.

“Tanya orang aja gimana?” gue ngasih ide di tengah keputus asaan.

“Nanyanya gimana coba?”

“Ummm…” Gue coba menyusun kata. “Gini aja, “Permisi, jalan menuju Samarinda yang ada jembatan Mahakamnya di mana, ya?””

“Sumpah, itu bego banget.”

“Ya mau gimana lagi, coba? Kita nyasar!” gue bener-bener gak ada ide lain.

“Putar balik deh,” Dana menunjuk arah belakang. “Tadi kayaknya kita ngelewatin pertigaan, mungkin ke arah situ.”

Karena terlalu fokus dengan sugesti “lurus aja”, gue jadi gak merhatiin kalo ada pertigaan. Gue putar balik. 10 menit kemudian kita sampai di jalanan-yang-ada-pertigaannya yang dimaksud oleh Dana. “Itu ada mamah-mamah muda, coba tanyain deh, bener gak itu jalan menuju Samarinda yang ada jembatan mahakamnya?”

“GAK ADA KALIMAT LAIN APA?!”

Dana pun turun dari motor, nyamperin seorang mama-mama muda yang lagi beli es tebu di pinggir jalan. “Permisi, Bu…” sapa Dana sok asik.

“Maaf, Mas..” Si Ibu menyodorkan tangan tanda penolakan.

“Saya mau numpang Tanya, Bu.”

“Oh, saya pikir tukang minta-minta.”

“….”

“Mau nanya apa, Mas?”

“Anu… Permisi, Bu… kalo jalan menuju Samarinda yang ada jembatan Mahakamnya di mana, ya?”

Hening.

“Belok kiri, Mas, habis itu lurus aja, ketemu deh jembatan Mahakam.”

“Oh begitu. Terima kasih banyak, Bu!”

Dana mendatangi gue dengan tatapan Tuh-Kan-Bener-Belok-kiri. Setelah dapet informasi ini, dengan semangat 69 gue geber lagi si Fixie hingga bertemu beneran dengan jembatan sungai Mahakam. Pemandangan yang gue lihat kayak gak berubah dengan 9 tahun yang lalu. Satu yang beda, air sungai Mahakam semakin coklat.

Kami akhirnya sampai di wilayah perkotaan Samarinda pukul 12.45 dan masih belum tau harus ke mana. Ke kanan? Ke kiri? Ke pelukan mantan? kita bener-bener gak tau arah.

The Nekat Traveler

Senin, 16 Maret, pulang dari menghabiskan masa muda alias kuliah, gue mampir ke rumah sohib gue, Dana, untuk mendiskusikan hal penting. Bahkan ini lebih penting dari pada misi Frodo Baggins membuang cincin ke kawah gunung Mordor.


“Kamu kapan libur kerja?” Tanya gue sambil guling-guling di kasur.

“Selasa besok libur, Rabu udah masuk tapi masuk malam.” Jawab Dana santai sambil ngupil.

“Owh…” gue berpikir sebentar. “Besok ke Samarinda, yuk!”

“Ngapain?” Alisnya Dana naik sebelah. “Nemuin Fita?”

“Mancing di sungai Mahakam!” Jawab gue ketus. “Ya iyalah! Udah lama gak ketemu, Nyet! Kangen!”

Fita adalah pacar gue yang sekarang dan kita… LDR-an. Ini kali kedua gue LDR-an Balikpapan-Samarinda, sedangkan ini jadi LDR-an pertama buat Fita. Kita udah lumayan lama gak ketemu, sekitar 3 minggu dia belum pulang ke Balikpapan. Walaupun Fita aslinya orang Balikpapan, tapi dia jarang banget pulang. Kesibukannya di kampus dan UKM-nya yang bikin kita jarang ketemu. Dia pemain biola dan hampir tiap malam latihan di kampus.
 
Ini si Fita dan sumpah, gue gak pake pelet.
Kamu kan cowok, ya kamu dong yang datangin dia!

Nah, masalahnya adalah jadwal kuliah gue dan Fita itu berlawanan. Jadwal kuliahnya dia padat dari Senin sampai Kamis, Jumat dan Sabtu libur. Sedangkan jadwal kuliah gue, padat saat weekend. Kayak jadwal gue yang sekarang nih: Senin kuliah pagi, selasa libur, Rabu kuliah masuk sore, Kamis libur, jumat kuliah masuk sore-malam, Sabtu kuliah pagi-siang.

Bagi gue, weekend itu cuma mitos!

Tapi gue sadar, yang namanya LDR, itu harus bertemu. Sedih rasanya kalo cuma bisa bilang kangen tapi gak ada waktu untuk ketemu, kan? Jika obat penguat dalam malam pertama adalah Viagra, maka obat penguat dalam hubungan LDR adalah bertemu. Sesimpel itu.

Tentang Ngabarin Pacar

"Yog, pacarnya Della nelponin aku terus.”


Sebuah chat dari pacar gue mengawali pagi gue hari itu. Pikiran gue langsung mengarah ke mana-mana. Kan banyak tuh kasusnya jatuh cinta sama temennya pacar sendiri. Di sini gue mulai mengakui bahwa pepatah, “rumput tetangga kelihatan lebih hijau” benar adanya.

“Emang ada apa dia nelponin kamu?” Tanya gue sok cool. Berusaha membuang segala pikiran jelek dan suudzon gue.

Belum sempat menghirup udara, chat gue udah terbalas, “Ya nyariin Della lah.”
Gue sujud syukur.

“Pasti Della ngilang gak ada kabar, kan?” gue coba menebak. Sebagai sesama cowok gue tentu tau alasan kenapa cowok nelpon temen pacarnya. Alasannya cuma ada dua. Yang pertama jelas pacarnya ‘menghilang’ gak ada kabar dan ini bikin cowok khawatir, satu-satunya cara membuat khawatir itu hilang ya dengan nyari tau ke temen dekatnya, mastiin kondisi pacar baik-baik aja.

Alasan kedua, ya suka sama temennya itu. Rumput tetangga emang keliatan lebih hijau.